Showing posts with label Indonesian Product. Show all posts
Showing posts with label Indonesian Product. Show all posts

Thursday, January 16, 2014

Mahasiswa ITS Bangun Boat Tenaga Surya "Jalapati"

Mahasiswa Teknik Sistem Perkapalan ITS
Energi alternatif memang sudah banyak diaplikasikan. Baik energi gas maupun tenaga matahari. Namun, kebanyakan masih digunakan untuk moda transportasi darat. Mahasiswa Teknik Sistem Perkapalan ITS membuat sesuatu yang berbeda dengan merancang perahu bertenaga surya. Mereka menyiapkannya untuk tantangan bergengsi, yaitu Dong Energy Challenge 2014 di Belanda.

Kecanggihan Radar ADS-B Buatan Indonesia

Radar ADS-B mampu memonitor pergerakan pesawat
Menurut Business and Management Consultant Asia Star, Wakijan, radar ADS-B dikembangkan oleh Asia Star bekerjasama dengan MPG Grup. Radar buatan Indonesia ini cukup istimewa karena mampu memonitor pergerakan pesawat mulai dari pesawat start engine (transponder ON) sampai mendarat dan kembali ke apron (transponder OFF). "Dan semua data text serta tampilan 3D (3 dimensi) lengkap dengan grafik dan koordinatnya sehingga semua penerbangan dapat tercatat dan terekam secara dokumen (text) dan visual (video)," terangnya kepada INILAH.COM, Sabtu (05/10/2013).

Tuesday, January 7, 2014

LAPAN Siapkan Satelit Mata-Mata Made in Republik Indonesia


mikrosatelit yg sepenuhnya buatan anak bangsa, akan meluncur ke angkasa. LAPAN-2
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) akan meluncurkan satelit berkuran kecil atau mikro satelit varian kedua (A2). Varian satelit A2 akan diluncurkan pada awal 2014. "Misinya surveillance (pengawasan), sensor maritim, komunikasi data orari," ucap Enjiner Ground Session LAPAN Unggul Satrio kepada detikFinance, di sela Pameran Harteknas di Aula BPPT Jakarta, Senin (24/6/2013).

Kereta anti-banjir buatan anak bangsa siap meluncur

Kereta kebanjiran di Stasiun Tanah Abang
PT Industri Kereta Api (INKA) mengembangkan lokomotif yang sepenuhnya produksi dalam negeri dengan kode CC 300. Produk ini bakal meluncur bulan depan dan diklaim anti-banjir. Direktur Utama INKA Agus Purnomo menyatakan, proyek lokomotif ini kerja sama pihaknya dengan Kementerian Perhubungan. Namun dengan pertimbangan sebagai proyek percontohan, maka ada beban biaya pengembangan yang ditanggung INKA.

Sunday, December 8, 2013

Kisah Nelson Mandela Cinta Batik Indonesia

Nelson Mandela Mengenakan Batik
Mantan pemimpin Afrika Selatan Nelson Mandela sering terlihat mengenakan batik Indonesia. Karena inilah, pamor batik Indonesia mendunia dan punya sebutan Madiba shirt di Afrika Selatan. Seperti diulas BBC beberapa waktu lalu, Mandela sempat membuat Presiden RI Suharto terkejut saat tokoh anti apartheid itu mengunjungi Jakarta pada tahun 1997. Saat itu, Mandela mengenakan batik, sementara Suharo berjas lengkap.
Pakaian batik selalu dikenakannya pada acara-acara resmi seperti peluncuran asosiasi mantan pemimpin dunia, The Elders Juli tahun 2007 lalu ini, Mandela sering dengan bangga mengenakan kemeja batik Indonesia. Mantan Duta besar RI untuk Afrika Selatan Sugeng Rahardjo kepada BBC mengatakan bahwa perkenalan Mandela dengan batik terjadi pada tahun 1990, beberapa bulan setelah dia kelur dari penjara Pulau Roben.
Asia termasuk Indonesia, kata Rahardjo, adalah tujuan utama perjalanan Madiba -nama akrab Mandela- usai keluar penjara. Dia bersama ANC mempromosikan kampanye anti aphartheid di Afrika Selatan. Saat kunjungan Mandela ke Indonesia saat itu, Rahardjo menjabat sebagai kepala seksi Afrika di Departemen Luar Negeri dan menjadi notulen pertemuan Presiden Suharto dan Mandela. Di sinilah kecintaan Mandela pada batik bermula. Sebagian kemeja batik yang dikenakan sang mantan Presiden Afrika Selatan merupakan rancangan Iwan Tirta, salah satu perancang batik terkenal di Indonesia.
Pada tahun 1994 saat menghadiri APEC di Bogor, Mandela mengenakan batik di hadapan para pemimpin negara lainnya.  Duta Besar Afsel untuk Indonesia Noel N. Lehoko, beberapa waktu lalu mengatakan bahwa setelah dikenakan Mandela, batik Indonesia tenar di negaranya. Batik di Afsel kini memiliki nama Madiba shirt dan diburu warga.
Batik kemudian juga ikut menginspirasi beberapa desainer lokal Afsel yang membuat motif batik baru. Lehoko menyebut saking termahsyurnya batik Indonesia, beberapa delegasi bisnis Afsel yang berkunjung ke tanah air rela menghabiskan waktunya seharian untuk berburu batik sebagai cinderamata.
Selain batik, Indonesia juga dikenal sebagai penghasil produk mie instan, tas, sepatu dan ragam produk yang terbuat dari kulit. "Indonesia perlahan-lahan mulai dikenal sebagai negara yang memiliki perekonomian yang kuat di Afsel," kata Lehoko. 

Sumber: viva.co.id

Monday, November 25, 2013

High Tech Museum of Exclusive Batiks Opens in Kuta, Bali

High Tech Museum of Exclusive Batiks
Renowned cloth maker/fashion designer and owner of Bin House, Josephine "Obin" Komara, on Wednesday 21stNovember 2013 launched the first ever textile museum on the fabled island of Bali. Simply taking the name "Museum Kain" (Literally meaning the Cloth Museum), the museum is located on the third floor of Beachwalk, an upscale mall situated near the Kuta Beach Area, and is completed with high tech interactive displays, including touch-screen consoles in front of each piece of exhibited cloth.
The museum was opened in a modest ceremony , reported thejakartapost.com. Relatives and guests did not sit on chairs but on pandan mats positioned around colorful and elaborate offerings that combined Javanese and Chinese cultural elements. The centerpiece was the cone-shaped yellow rice tumpeng (Symbolizing Mount Semeru where the gods in Javanese mythology lived ) which is always present in traditional Javanese rituals and ceremonies. Instead of calling it a "soft" or "grand" opening, Obin prefers the term Selametan, a common Javanese ritual to express gratitude and seek divine blessing.
"What we are trying to do today, through this museum, is to remember the past, to cherish the present and to prepare the future. This museum should be a place where our youngsters learn about the beautiful works created and passed on by their ancestors and at the same time be inspired to create their own," Obin said.
Obin added that the idea to build the museum was her husband's, Roni Siswandi, a noted archaeologist and batik connoisseur who passed away early this year. Obin was said to have been brokenhearted and decided to stop the project, but then her son Erlangga "Elang" Komara stepped up and continued the project. "So, this museum was Roni's dream and Elang's achievement," she explained.
The Museum features 61 rare pieces of various Batik cloths on display. Copper batik printing blocks, canting wax pens and dried leaves used for coloring are displayed in glass cases. The Museum also comes with special lighting which combines eco-friendly LED lights and fluorescent tubes that bring out the various pieces to come alive. Adding to the dramatic effect, the winding passageways are purposefully left dark.
The collections are going to be rotated every six months to accommodate Obin and Roni's collection of over 600 rare batiks.
Obin has gained national recognition for her work to conserve and promote batik as well as for her philanthropic work across the archipelago. Obin Komara began collecting vintage cloth pieces from all over Indonesia in the mid 1970s. Obin's search to find contemporary fabrics that could compare with the antique textile pieces in her own collection convinced her that the rich heritage of Indonesian textile weaving and dyeing had been almost forgotten in the midst of mass machine production.
Rather than lamenting the passing of an era and the loss of an art, Obin set about breathing new life into the dying handmade cloth industry. Armed with only a handful of spinners, reelers, and weavers, Obin and her team began to produce cloths in the late 70s. In 1986, BIN house opened its first shop in Jakarta, which was soon followed with scores of textile exhibitions, mainly in Japan and in Indonesia.
Kain Obin
The exquisite fabrics from BIN house are entirely hand-spun and hand-woven by the finest Indonesian artisans, with no assistance from modern technology. Each piece of cloth is a product of meticulous craftsmanship that often takes months-sometimes a whole year—to finish. The work starts from selecting and processing the fibers into yarn, then preparing the yarns for the intricate weaving using handlooms, then the weavers, "batikers"(Batik painters), and dyers begin their work. Very often, more than 40 artisans are involved in this lengthy and delicate process. The intricate patterns depicting ancient and near-extinct motifs are results of complex methods of fabric weaving and batik dyeing that would take decades to master.
In addition to cloth making, Obin has also participated in international forums such as seminars, symposiums, workshops and discussions on textile making, the most recent of which was "Artisans of South East Asia" a symposium organized by UNESCO and The Toyota Foundation in 2001.

Sumber:  indonesia.travel

Thursday, November 21, 2013

Mobil Hemat Rancangan Universitas Indonesia Tembus 1000 km per Liter

Arjuna Hore UI
Mobil hemat bahan bakar rancangan tim UI berhasil menembus 1000 km per liter dalam ajang Indonesia Energy Marathon Challenge (IEMC) 2013 yang diselenggarakan di sirkuit Kenjeran Surabaya pada tanggal 14 - 17 November 2013. IEMC merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) untuk menguji kemampuan merancang dan membangun kendaraan yang aman, irit dan ramah lingkungan. Kegiatan ini diikuti oleh 53 tim perwakilan berbagai universitas/institut/politeknik dari seluruh penjuru Indonesia.
Dengan bendera “Nakoela Hore UI” tim UI mampu melewati tim-tim lainnya dan menyabet juara 1 kategori Prototype Bensin dengan konsumsi bahan bakar (kbb) mencapai 1027,4650 km/L. Angka ini sekaligus membekukan tim ini sebagai tim pertama mobil hemat rancangan Indonesia yang mampu menembus angka psikologis 1000 km/L. Prestasi serupa juga dicapai oleh saudara kembarnya “Arjuna Hore UI” yang mampu meraih juara 1 dalam kategori Prototype Listrik dengan konsumsi 252,4328 km/kWh. Pada ajang bergengsi ini tim UI hanya menurunkan dua perwakilan, dan dua-duanya meraih posisi puncak. Sementara itu, posisi pertama untuk empat kategori lainnya diraih oleh tim perwakilan ITS. Posisi kedua kategori prototype listrik, urban bensin, urban diesel dan urban listrik masing-masing diraih oleh tim dari UPI, UNS, UGM dan ITB. Berikut ini hasil selengkapnya dari kompetisi tersebut.
Nakoela HoreUI
KATEGORI PROTOTYPE; KELAS GASOLINE
Juara 1 : Tim “Nakoela Hore UI” dari Universitas Indonesia dengan konsumsi bahan bakar (kbb) 1027,4650 Km/L
Juara 2 : Tim “ITS Team 1″ dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember dengan kbb 677,9639 Km/L
KATEGORI PROTOTYPE; KELAS DIESEL
Juara 1 : Tim “ITS TEAM 4″ dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember dengan kbb 399,2818 Km/L
KATEGORI PROTOTYPE; KELAS LISTRIK
Juara 1: Tim “Arjuna Hore UI” dari Universitas Indonesia dengan kbb 252,4328 Km/kWh
Juara 2: Tim “Bumi Siliwangi 3″ dari Universitas Pendidikan Indonesia dengan kbb 236,9837 Km/kWh
KATEGORI URBAN; KELAS BENSIN
Juara 1: Tim “ITS Team 3″ dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember dengan kbb 191,1462 Km/L
Juara 2: Tim “Bengawan” dari Universitas Sebelas Maret dengan kbb 135,8922 Km/L
KATEGORI URBAN; KELAS DIESEL
Juara 1: Tim “ITS TEAM 2″ dari INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER dengan kbb 191,9998 Km/L
Juara 2: Tim “Semar Urban UGM” dari Universitas Gadjah Mada dengan kbb 111,8151 Km/L
KATEGORI URBAN; KELAS LISTRIK
Juara 1: Tim “Nogogeni 2″ dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember dengan kbb 100,1006 km/kWh
Juara 2: Tim “Cikal Cakrawala EV” dari Institut Teknologi Bandung 69,2053 km/kWh

Sumber: ui.ac.id

BandrOS Smartphone Made in Indonesia

BandrOS smartphone
Harapan terhadap munculnya produk smartphone karya anak bangsa terbit pada pengujung Agustus lalu. Tepatnya ketika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian (Puslit) Informatika meluncurkan smartphone bernama BandrOS. Smartphone BandrOS ini tidak seperti barang sejenis yang mengklaim buatan Indonesia, tetapi operating system (OS)-nya bikinan luar negeri.  Entah itu menggunakan OS Android, iOS, BlackBerry, Windows Phone, atau sejenisnya.
Pada teknologi smartphone, posisi OS ibarat nyawa pada manusia. Sementara chasing atau perangkat keras handphone ibarat badan. Meskipun perangkatnya dibuat di Indonesia, tetapi jika menggunakan OS impor, tidak sah disebut karya anak bangsa. Namun, khusus BandrOS ini benar-benar produk lokal. Semuanya dibuat orang Indonesia. Khusus perangkat teleponnya mendapatkan suntikan ide dari PT INTI, selaku produsen pesawat telepon dan telepon genggam lokal. Sedangkan "nyawa" smartphone ini dikembangkan dua peneliti LIPI Ana Heryana dan Sahrul Arif, yang akhirnya diberi nama BandrOS.
Smartphone ini saat diluncurkan di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) Serpong sudah berbentuk prototipe (produk contoh). Sejumlah pihak seperti Kepala LIPI Lukman Hakim mendapatkan satu unit prototipe BandrOS. Dari tampilan fisiknya, BandrOS ini hampir mirip dengan smartphone yang sekarang beredar di pasaran. Peranti ini menggunakan teknologi full touch screen dengan layar 3,5 inci. Aplikasi dan fungsi di dalamnya juga tidak jauh berbeda dengan smartphone lainnya. Di antaranya bisa dipakai untuk menelepon, SMS, internetan, multimedia, game, GPS, dan fitur-fitur ter-update yang lain.
Penelitian BandrOS dimulai pada 2010. Proyek tersebut merupakan tindak lanjut prestasi LIPI menciptakan open source IGOS Nusantara pada 2006. Sayangnya, meskipun bebas di-donwload dan dipasang di komputer desktop maupun laptop, IGOS Nusantara tidak bisa mengalahkan dominasi peranti lunak Windows. Kepala Bidang Komputer Puslit Informatika LIPI Agus Subekti menuturkan, BandrOS ini diciptakan awal mulanya bukan murni untuk dibenamkan di smartphone. "Tujuan kami dari pengembangan BandrOS adalah untuk kebutuhan komputasi khusus," ungkap dia di Jakarta beberapa waktu lalu. Agus menceritakan, sistem operasi BandrOS ini awalnya diterapkan pada komputer khusus (special purpose computer) yang berwujud single board computer (SBC). Perangkat komputer khusus ini di antaranya sudah sukses dipakai untuk proyek stasiun cuaca nirkabel. Pada prinsipnya, sistem operasi BandrOS ini dikembangkan dengan menggunakan open source software Linux. "Setelah sukses membuat BandrOS yang ditanam di komputer khusus untuk cuaca tadi, baru tebersit gagasan untuk dipakai di peranti smartphone," paparnya.
Diskusi awal menggodok ide ini melibatkan berbagai pihak. Antara lain dari PT INTI selaku produsen pesawat telepon dan telepon genggam lokal. Selain itu, ada perwakilan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Hasil diskusi tadi menargetkan bisa membuat prototipe smartphone yang sudah dibenamkan BandrOS di dalamnya tahun ini. Target tadi akhirnya bisa dipenuhi Agustus lalu. Prototipe smartphone BandrOS diperkenalkan ke publik bersama dengan pengenalan minibus bermotor listrik dengan nama Hevina. Penamaan BandrOS diberikan bukan asal-asalan. Di tempat kelahirannya, Bandung, istilah bandros itu adalah nama salah satu makanan khas setempat. Kue bandros berasa gurih dan bentuknya seperti kue pukis. Kue ini memiliki nama lain kue pancong. Dengan dasar tadi, BandrOS diharapkan lebih bernuansa lokal. Penamaan BandrOS juga memiliki kepanjangan, yaitu Bandung Raya Operating System.
Peluncuran smartphone BandrOS tersebut sempat menghebohkan. Salah satunya adalah kemampuannya menjadi handphone antisadap pertama di Indonesia. Sejumlah pihak bahkan mengatakan, beberapa kalangan sangat intensif melobi LIPI supaya menciptakan smartphone itu dalam jumlah besar. Seperti mafhum diketahui, baru-baru ini banyak kasus korupsi kakap yang melibatkan politikus, PNS, dan swasta yang dibongkar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari hasil penyadapan. Kepala LIPI Lukman Hakim tidak menampik kemampuan khusus BandrOS sebagai handphone antisadap. Melalui sistem operasi yang dikembangkan sendiri, kustomisasi smartphone BandrOS bisa diolah sesuka hati. Seperti diciptakan supaya tidak bisa disadap dan diproteksi atau diblok untuk mengakses situs-situs porno. "Tapi, saya tegaskan, arah BandrOS ini bukan seperti itu (menjadi handphone antisadap, Red). Nanti bakal banyak yang memesan ke saya," kata Lukman.
Dia menjelaskan, hingga kini LIPI dan pemerintah belum berencana memproduksi BandrOS sebagai smartphone umum. Dia mengatakan, jika BandrOS dilepas secara umum, teknologinya sudah terlalu jauh untuk menggeser smartphone yang sudah ada. Tetapi, Lukman menyatakan bahwa teknologi BandrOS ini akan dikembangkan untuk telekomunikasi khusus. Misalnya untuk polisi hutan dan polisi perairan yang tugasnya blusukan di penjuru Indonesia. Fungsi jagoan dari BandrOS yang bakal dikembangkan lagi antara lain untuk keperluan pendidikan, administrasi perkantoran, komunikasi aman/rahasia, pengendalian jarak jauh, dan sistem pengamatan. "Jadi, untuk diproduksi masal dan dijual ke pasaran umum, itu masih jauh," tutur Lukman. Selain itu, wewenang LIPI adalah penelitian dan pengembangannya. Urusan produksi masal umumnya diambil alih vendor-vendor swasta. Jika pihak LIPI masih gamang terhadap rencana produksi masal BrandOS, pemerintah justru berencana mulai memproduksi massal pada tahun depan.
Langkah itu untuk membendung arus impor handphone yang semakin deras mengalir ke Tanah Air. Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan, untuk bersaing di industri global, Indonesia mesti berani melakukan inovasi teknologi. "Insya Allah, tahun depan diproduksi massal," katanya. Dia mengatakan, handphone yang akan diproduksi itu masih dikaji lebih matang agar saat dilepas ke pasaran bisa kompetitif dengan produk impor. "Kalau soal harga lebih murah, handphone impor sampai Rp3 juta, kalau yang ini bisa di bawah Rp1 juta," katanya bangga. Kisaran harganya berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu saja

Sumber: riaupos.co

Sunday, November 10, 2013

Nikon 1 AW1, Kamera Canggih Made In Indonesia

Toshio Asazaki, Presiden Direktur, PT. Nikon Indonesia (tengah) didampingi Sukimin Thio, Marketing Manager, PT. Nikon Indonesia (kiri) menunjukkan Nikon 1 AW1 kepada wartawan saat diperkenalkan
PCplus terkejut ketika membalik kamera Nikon 1 AW1 yang beru diperkenalkan PT. Nikon Indonesia hari ini. Sebab produk merek Jepang yang biasa diproduksi di China atau Thailand ini ternyata bertuliskan “Made in Indonesia”. Saat dikonfirmasi oleh awak media, Sukimin Thio, Marketing Manager PT. Nikon Indonesia, membenarkan hal tersebut. Kendati demikian, Thio tidak merinci dimana dan siapa pabrik pembuat kamera ini. “Kita bekerjasama dengan pihak ketiga, tapi namanya tidak bisa disebut,” jelasnya.
Indonesia patut bangga didapuk Nikon sebagai negara produsen Nikon 1 AW1 ini. Pasalnya, kamera ini adalah kamera dengan lensa lepas pasang (interchangeable) pertama di dunia yang bisa menyelam di dalam air. Bahkan Nikon menyebutnya sebagai kamera mirrorless paling canggih yang pernah dirilis perusahaan Jepang itu. Kamera ini diklaim bisa menyelam hingga kedalaman 15 meter selama 2 jam penuh. Selain itu, ia juga tahan banting, setidaknya masih bisa bekerja normal meski pernah dijatuhkan dari ketinggian hingga 2 meter. Saat di dalam air semua fasilitas yang dibutuhkan tersedia, termasuk pengaturan moda khusus bawah air untuk mengatur white balance, kontrol distorsi, dan lampu kilat.
Sebenarnya kombinasi antara sensor CMOS 14,25 megapiksel dan prosesor gambar Expeed 3A yang membuat kamera ini patut dilirik kalangan profesional, pehobi fotografi dan petualang. Dengan kombinasi dua komponen ini, Nikon 1 AW1 mampu mengambil gambar dengan kecepatan 60 frame per detik termasuk merekam video dalam resolusi Full HD tanpa masalah.
Nikon 1 AW1, kamera interchangeable lens pertama di dunia yang bisa menyelam.
Teknologi AF Hybrid di kamera ini juga turut mendongkrak kinerja fokus kamera. Dengan menggabungkan pengunci fokus Phase Detection dan Contrast Detection, Nikon 1 AW1 bisa mengunci fokus pada subyek bergerak dengan lebih cepat dan tepat, termasuk menjawab tantangan mengunci fokus di tempat yang minim cahaya. Hal-hal seperti ini umum ditemukan saat memotret di bawah air di mana cahaya kian terbatas.
“Kami bangga dapat menghadirkan Nikon 1 AW1, kamera waterproof yang canggih guna memenuhi keinginan para penggemar scuba diving untuk mengabadikan keindahan flora dan fauna bawah laut yang begitu banyak terdapat paa taman-taman laut kelas dunia di Indonesia ini,” kata Toshio Asazaki, Presiden Direktur PT. Nikon Indonesia. Di Indonesia kamera ini sudah bisa dipinang melalui toko kamera dan elektronik yang tersebar di seluruh nusantara. Nikon membandrolnya seharga 10,6 juta.

Sumber: pcplus.co.id

Saturday, September 7, 2013

Banyuwangi, Indonesia Produksi Mobil Listrik Zbee

Mobil Listrik Zbee
 Di saat pemerintah mulai menjalankan program mobil murah dan ramah lingkungan, Low Cost Green Car (LCGC), Pemkab Banyuwangi justru telah mengambil langkah sigap. Dengan menggandeng produsen teknologi ramah lingkungan yang berbasis di Swedia, Clean Motion, Pemkab Banyuwangi akan menjadi pusat industri pembuatan mobil listrik. Clean Motion dipastikan akan mulai memproduksi kendaraan bertenaga listrik di Banyuwangi. Kendaraan bermerek ZBee itu akan diproduksi di Banyuwangi, Jawa Timur, mulai Agustus 2013.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan Clean Motion sebagai produsen ZBee akan menggandeng industri manufaktur lokal di Banyuwangi, yaitu PT Lundin Industry Invest. Dalam website resminya, Clean Motion menyebut potensi pasar kendaraan jenis ini di Indonesia mencapai 100.000 unit per tahun. Produksi ini antara lain untuk memenuhi kebutuhan peremajaan bajaj yang sedang digiatkan Pemprov DKI Jakarta.
Interior Mobil Listrik Zbee
 "Selasa malam (11/6/2013) kami sudah bertemu dengan CEO Clean Motion dan Duta Besar Swedia untuk Indonesia di Jakarta. Ada kepastian akan berproduksi mulai Agustus di Banyuwangi," ujar Anas di Surabaya, Rabu (12/6/2013) Anas berharap, investasi perusahaan Swedia dalam pembuatan mobil ZBee dengan menggandeng mitra lokal di Banyuwangi akan mempunyai dampak seperti bola salju. Diharapkan bola salju terus menggelinding dan membesar, yaitu dengan menggaet jaringan bisnis Swedia lainnya untuk masuk ke Banyuwangi.
Apalagi, kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Swedia akhir Mei lalu telah menghasilkan komitmen dari sejumlah perusahaan besar di sana untuk berinvestasi di Indonesia.
"Kami yakin jaringan bisnis Swedia bisa semakin melirik Banyuwangi setelah ZBee diproduksi di kota kami," ujar Anas.
 Anas menyambut antusias rencana investasi Swedia tersebut. Swedia adalah negara yang menduduki peringkat ke-8 dalam Innovation Capacity Index (Indeks Kapasitas Inovasi) dunia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Swedia tercatat di posisi 10 besar dunia. Sejumlah penemuan seperti GPS, sabuk pengaman tiga titik, atau cardiac pacemaker (penunjang medis untuk kesehatan jantung) adalah inovasi dari Swedia. "Inovasi adalah kunci dari daya saing. Karena itu, masuknya Swedia dengan memproduksi ZBee di Banyuwangi bisa menjadi impuls untuk tumbuh-kembangnya budaya dan tradisi inovasi agar daya saing ekonomi daerah terus meningkat," jelas Anas.
Tampak Belakang Mobil Listrik Zbee
Untuk spesifikasi lengkap tentang mobil listrik Zbee bisa dilihat di otomotifnet.com
 

Monday, August 26, 2013

Indonesia Memproduksi Pentavalen Baru

Vaksin Pentavalen Baru
Bio Farma merupakan salah satu perusahaan di Asia ang mampu memproduksi Pentavalen dengan harga yang cukup terjangkau. “Saat ini kita penuhi dulu pasar dalam negeri, setelah itu kita fokus ke ranah global setelah mendapatkan prakualifikasi dari WHO,” papar Rachman (Corporate Secretary Bio Farma). Alliansi Globak untuk Vaksin dan imunisasi atau Globa Alliance for Vaccine and Immunization (GAVI) sangat mendukung upaya yang dilakukan oleh Bio Farma untuk memproduksi pentavalen. CEO GAVI, Hellen Evans mengatakan pentavalen merupakan program prioritas GAVI. Alliansi ini mendorong negara-negara berkembang untuk dapat memproduksi vaksin dalam negeri.Ia juga berharap Indonesia dapat meningkatkankan kapasitas produksi vaksin pentavalen. “Kami mendorong negara-negara berkembang untuk dapat memproduksi vaksin secara mandiri,” kata Hellen.