Showing posts with label Indonesian Education. Show all posts
Showing posts with label Indonesian Education. Show all posts

Thursday, January 16, 2014

Mahasiswa ITS Bangun Boat Tenaga Surya "Jalapati"

Mahasiswa Teknik Sistem Perkapalan ITS
Energi alternatif memang sudah banyak diaplikasikan. Baik energi gas maupun tenaga matahari. Namun, kebanyakan masih digunakan untuk moda transportasi darat. Mahasiswa Teknik Sistem Perkapalan ITS membuat sesuatu yang berbeda dengan merancang perahu bertenaga surya. Mereka menyiapkannya untuk tantangan bergengsi, yaitu Dong Energy Challenge 2014 di Belanda.

Monday, January 6, 2014

Mahasiswa Indonesia asal Institut Teknologi Bandung (ITB) Juara Lomba Debat Internasional

Debat antar universitas dunia.
Dua mahasiswa Indonesia asal Institut Teknologi Bandung (ITB) Fauzan Reza Maulana dan Vicario Reinaldo mencatatkan sejarah baru di dunia debat internasional. Untuk pertama kalinya mereka mampu membawa Indonesia menjadi juara debat antar universitas dunia.
Fauzan dan Vicario mengalahkan mahasiswa asal Rusia (New Economic School), Polandia (University of Warsaw) dan Jerman (Eberhard Karls University Tubingen) dalam kategori English-as-Foreign-Language. Tema debat yang diusung adalah 'This House Believes That Multinational Companies Should be Liable for Human Rights Abuses That Occur Anywhere in Their Supply Chain". Untuk dua kategori lain yang lebih tinggi, diraih mahasiswa Jerman dan Harvard AS.

Thursday, December 19, 2013

Pakar Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya Ubah Lumpur Lapindo Jadi Baterai Lithium

Lokasi semburan Lumpur Sidoarjo (LUSI)
 Dua pakar Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) mempresentasikan hasi penelitian mereka di lokasi semburan Lumpur Sidoarjo (LUSI) atau yang kerap disebut lumpur Lapindo. Betempat  di Kantor Staf khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, Dr.Amien Widodo dan Dr.Lukman Noerochim, mempresentasikan hasi penelitian mereka di lokasi semburan Lumpur Sidoarjo (LUSI) atau yang kerap disebut lumpur Lapindo
Presentasi dengan judul proses Ekstraksi dan Pengolahan Lithium dari Lumpur Sidoardjo untuk Pembuatan Katoda Baterei Lithium. Dua peneliti senior dari ITS Surabaya ini memaparkan hasil penelitian mereka bersama Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM), mulai dari komposisi kimia dan struktur molekul LUSI, berapa potensi kandungan Lithium dalam Lumpur, sampai berapa besar kandungan LITHIUM yang berhasil di ekstraksi.

Monday, December 9, 2013

JAYAMAHE, Jawara Kapal Cepat Tak Berawak UGM

Team ROBOBOAT UGM
Tim robot kapal fuel engine (berbahan bakar) Universitas Gadjah Mada (UGM), JAYAMAHE, berhasil meraih juara 1 pada Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional 2013 (KKCTBN 2013), 25-26 November lalu di Camplong, Sampang, Madura.
JAYAMAHE berhasil menyisihkan puluhan tim dari perguruan tinggi seluruh Indonesia, seperti ITB, UI, IPB dan Politeknik Negeri Bengkalis. Tim JAYAMAHE terdiri dari Dany Ezah Fazwi (Teknik Mesin), Pandu Dwijayanto (Teknik Mesin), Davin Demas (Teknik Mesin), Febry Mulia (Teknik Mesin), Agung Nugroho (Teknik Mesin), Sukma Langgeng (Teknik Mesin), M. Nur Fattah (D3 Elins), Erwin Prawira (D3 Teknik Elektro) serta Abdurrahman Achmad (D3 Teknik Elektro). Juru bicara tim JAYAMAHE, Nur Fattah, didampingi Ketua Roboboat UGM Nikite Sulistiyana mengatakan kapal cepat tanpa awak ini menggunakan bahan bakar pertamax serta oli samping.
JAYAMAHE dikendalikan oleh modul remote control yang menggerakkan tuas gas dan haluan kapal. Dengan mesin (special engine) 26 cc dan bentuk lambung kapal V (monohull) yang telah dimodifikasi, kapal ini mampu melaju dengan kecepatan tinggi dan melakukan putaran haluan hingga 360o pada satu titik. "Kecepatan maksimal bahkan bisa mencapai 80 km per jam," papar Fattah, dalam siaran persnya kepada Okezone, Minggu (8/12/2013).
Pengembangan kapal ini cukup potensial dijadikan sebagai kapal penjaga perbatasan ataupun kapal pengintai. Fattah menuturkan keunggulan-keunggulan yang dimiliki itulah yang membuat JAYAMAHE meraih poin sempurna untuk uji speed dan uji manuver pada KKCTBN 2013 lalu. Tiga besar yang keluar sebagai juara pada kategori fuel engine ini, yaitu juara 1 UGM, juara 2 Politeknik Negeri Bengkalis dan juara 3 IPB.
Sementara itu pada kategori Autonomous (kapal tanpa interaksi manusia/pengendali), SAFINAH.ONE., meraih juara 3. SAFINAH.ONE terdiri dari Iqro Kurmawan (Elins), Ardi Puspa Kartika (Elins), Mahendra Budi Nugraha (Elins), Febrika Endika (D3 Teknik Elektro), Arif Abdul Aziz, Yudhis, Irul dan Denny dari  Teknik Mesin.
Menurut Ardi, kapal SAFINAH.ONE ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari kapal safinah.one sebelumnya. Pada kapal ini lebih ditekankan pada sistem kestabilan kapal. Oleh karena itu, bentuk kapal ini adalah V Hull Khatamaran. Yaitu bentuk hull dengan mengombinasikan dua lambung kapal berbentuk V dengan bentuk serupa, kemudian membentuk sebuah formasi sejajar dengan adanya jalur arus air di tengahnya. "Desain ini menghasilkan tahanan yang kecil terhadap air sehingga menghasilkan laju yang lebih stabil serta menambah kecepatan saat melaju. Kapal ini cukup tangguh dalam menghadapi halangan seperti ombak di laut," kata Ardi.
Ia menjelaskan SAFINAH.ONE digerakkan dengan dua buah motor Brushless tanpa menggunakan rudder. Dengan sistem penggerak seperti itu, maka kapal dapat lebih mudah untuk dikendalikan kemudian diteruskan melalui fix shaft lalu disambungkan menuju propeller/baling-baling. Sistem ini memiliki kelebihan yaitu dalam melakukan belokan pada saat manuver dapat dicapai jarak yang sempit dengan radius belokan yang besar. "Ada kombinasi antara kecepatan motor kanan dan kiri pada belokan. Sistem putaran propeller nya juga menggunakan dua arah yaitu CW (Clockwise) dan CCW (Counter Clockwise) sehingga dapat menghasilkan daya dorong yang kuat," urainya.
Selain itu kapal ini dilengkapi dengan sistem navigasi kompas dan gps. Kompas di kapal ini berguna untuk menunjukkan ke arah mana kapal bergerak dan juga berguna untuk mengarahkan kapal. GPS pada kapal ini dapat memberitahu lokasi dari kapal tersebut berdasarkan koordinat bujur dan lintang dengan ketepatan +-1 meter. Kapal dilengkapi juga dengan sensor SRF. Tiga besar tim pada kategori Autonomous ini, yaitu juara 1 PENS, juara 2 Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) dan juara 3 UGM.

Sumber: okezone.com

Thursday, December 5, 2013

Siswa Indonesia Paling Bahagia di Dunia

Siswa Siswi Sekolah Menengah Pertama
Siswa-siswi Indonesia memperoleh peringkat pertama sebagai siswa paling bahagia di dunia. Hal itu dibuktikan dari survei yang dilakukan Organization Economic Cooperation and Development (OECD) dalam Program for International Student Assessment (PISA). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyambut baik survei tersebut. Kemendikbud menganggap hasil survei itu berkat kerja keras pihaknya dan seluruh elemen pendidikan di Indonesia.
"Kita syukuri hasil survei itu dan memang sosialisasi kita sudah mengakar dari budaya," ujar Kapuskom Kemendikbud Ibnu Hamad, saat dihubungi detikcom, Kamis (5/12/2013). Ibnu menambahkan ke depannya, Kemendikbud akan membuat anak-anak bahagia saat di dalam kelas. Para siswa diharapkan lebih bahagia lagi ketika sang guru mulai mengajarkan mata pelajaran. "Karena survei kemarin kan konteks sosialisasi, kita ingin ke depannya mereka senang dengan cara belajar dan itu pun kita sudah masukan dalam kurikulum 2013 kita," ujarnya.
Ibnu menambahkan dengan anak-anak senang dan bahagia di dalam kelas maka itu akan menopang prestasi para siswa di bidang akademik. "Dengan demikian prestasi anak-anak di bidang sains bisa meningkat," pungkasnya.

Sumber: detik.com

Tuesday, September 17, 2013

Batam Techno Park Diresmikan untuk Hadapi Pasar Bebas ASEAN

Batam Area
Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta meresmikan Batam Techno Park Politeknik Negeri Batam, Jumat (13/9). Laboratorium yang diharapkan bisa mendukung induastri berbasis teknologi di kawasan pelabuhan dan perdagangan bebas (FTZ) Batam itu disiapkan untuk mengembangkan sumber daya manusia menuju pasar bebas ASEAN 2015. Keberadaan Batam Techno Park di Politeknik Negeri Batam itu sebagai inkubator teknologi untuk mendorong munculnya inovasi-inovasi lokal. Laboratorium itu juga bertujuan memfasilitasi UKM yang berbasiskan Informasi Teknologi.
Saat peresmian, Gusti mengaku sangat terpukau dengan panorama alam Kepri. Apalagi Kepri terletak di daerah yang sangat strategis, karena berbatasan dengan negara lain. ”Ini potensi dan dari sini kita harus berangkat dalam mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena itu sangat penting mengembangan sumber daya manusia mulai dari sekarang,” kata Gusti. Menurutnya, tahun 2015 mendatang Indonesia akan terbuka bebas untuk negara-negara luar. Sehingga nantinya akan terjadi persaingan SDM yang tinggi. Kondisi itu akan menjadi tantangan berat bagi Indonesia. “Hanya 7 persen penduduk Indonesia berpendidikan sarjana, selebihnya di bawah itu. Sementara untuk pasar bebas mendatang, negara luar bisa mengirimkan tenaga kerja berstatus master, itu yang kita takutkan. Karena itu saya harap kita bisa menghasilkan SDM yang berkualitas dan berkarakter,” terang Gusti.
Gubernur Kepri HM Sani yang mendampingi Gusti mengingatkan pentingnya mewujudkan pembangunan SDM yang andal. Sani mengingatkan bagaimana menumbuhkembangkan jiwa entrepreuner. “Apa lagi, tahun 2015 mendatang, sudah masuk pasar bebas ASEAN. Kalau kita tidak bisa bersaing, kita akan kalah. Jadi sekarang kita harus mencari tahu cara menumbuh kembangkan entrepreneuner pemuda dan pemudi Indonesia,” kata Sani 
Batam Technopark
Sementara Direktur Politeknik Batam Priyono Eko Sanyoto mengaku sangat optimis jika Batam Techno Park bisa memajukan teknologi Indonesia, dengan dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah.
“Tugas utama kami menciptakan tenaga kerja trampil. Namun sekarang ada tugas baru, tak hanya menciptakan tenaga trampil, tapi harus mempunyai basis tekonologi,” kata Priyono. Pada kesempatan itu, Politeknik juga menampilkan hasil karya mahasiswa mereka berupa robot. Robot tersebut didesain untuk bisa menampilkan atraksi goyang cesar yang mendapat sambutan meriah dari ratusan tamu dan mahasiswa yang ada pada acara tersebut.
 

Fakultas Geografi UGM Jadi Leader Pengurangan Risiko Bencana di Asia Tenggara

Fakultas Geografi
Sejalan dengan komitmen Fakultas Geografi untuk menjadi leading institution dalam kerjasama international di wilayah Asia Tenggara, maka Fakultas Geografi UGM bersama-sama dengan Cologne University of Applied Science (CUAS), Cologne, Jerman menginisiasi konsorsium baru dalam pengurangan risiko bencana di wilayah Asia Tenggara dan wilayah sekitarnya dengan melibatkan 10 negara di Asia Tenggara (Kamboja, Vietnam, Thailand, Malaysia, Laos) Asia Selatan (Bangladesh, Nepal), Amerika Latin (Brazil), Timur Tengah (Mesir) maupun negara di Eropa sebagai salah satu negara donor (Jerman).
Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri, Fakultas Geografi UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko menjelaskan bahwa perintisan konsorsium baru dalam pengurangan risiko bencana di Asia Tenggara lahir dari program CNRD network (Center for Natural Resources and Development) yang merupakan jaringan 11 universitas di 10 negara (Indonesia, Vietnam, Nepal, Jerman, Mozambique, Mesir, Yordania, Mexico, Chile, dan Brazil) yang dibiayai oleh DAAD (German Academic Exchange Service) dan Kementerian Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, Jerman. "CNRD ini merupakan program 5 tahunan dalam bidang pengelolaan sumberdaya alam,”kata Danang, Senin (16/).
Ia menambahkan sejak tahun 2009 sejumlah  15 mahasiswa Fakultas Geografi UGM mendapatkan beasiswa S2 dan S3 di negara-negara partner. Selain itu, Prof. Dr. Junun Sartohadi, M.Sc. terpilih menjadi profesor tamu di CUAS selama 1 tahun (2011 – 2012) serta sejumlah 5 staf pengajar berkesempatan menjadi dosen tamu di beberapa negara partner. Inisiasi konsorsium ini kemudian diwujudkan dalam workshop internasional, 9-13 September lalu. Poin penting dalam workshop tersebut yaitu mendesain beberapa exit strategy yang perlu ditempuh baik dalam melebarkan jaringan yang ada baik dari sisi partners, dari sisi aktivitas maupun dari sisi keberlanjutan. Dari 11 partner dari 10 negara, dalam workshop ini CNRD memperlebar jaringan menjadi 16 negara termasuk di wilayah Asia Tenggara.
Mahasiswa Geografi UGM
“Outputnya bagaimana mengembangkan kerjasama dalam bidang Ecosystem-based Disaster Risk Reduction yang dikembangkan dalam framework kerjasama bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dengan mendasarkan pada bidang keahlian dari anggota jejaring tersebut,”urai Danang. Rektor UGM yang membuka workshop saat itu menekankan bahwa UGM sebagai universitas tertua di Indonesia merupakan universitas yang paling komprehensif dalam memberikan solusi permasalahan bangsa khususnya dalam pengurangan risiko bencana. UGM memberikan kontribusi signifikan dalam pengurangan risiko bencana melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di seluruh pelosok tanah air. “Melalui program Kuliah Kerja Nyata, UGM telah berkontribusi nyata dalam pengabdian kepada masyarakat,”kata Pratikno

Sumber: ugm.ac.id

Sunday, September 15, 2013

Indonesia Juara Umum MTQ Internasional

Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Internasional ke-2 Tahun 2013
Indonesia keluar sebagai juara umum Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Internasional ke-2 Tahun 2013, setelah berhasil mengungguli perwakilan dari 20 negara yang berkompetisi mulai 11-14 September di Masjid Istiqlal. Sesuai dengan keputusan Dewan Hakim (beranggotakan dari Yordania, Iran, Uni Emirat Arab dan Indonesia) yang dibacakan oleh Dr. Syaikh Samih Assaminah (Yordania) selaku Ketua, para juara MTQ Internasional ke-2 Tahun 2013 adalah sebagai berikut:

  1. Cabang Tilawatil Qur’an (seni baca): juara pertama diraih oleh Ahmad Al Holdy (Qari asal Maroko), juara kedua Duduy Sa'dullah (Indonesia) dan juara ketiga Muhammad bin Ali (Brunei Darussalam).
  2. Cabang Hifdzil Qur’an (hafalan): juara pertama diraih Jajang Hasanuddin (Hafidz asal Indonesia), juara kedua Khalid Jasim Al Inaty (Kuwait) dan juara ketiga oleh Muhammad Mubeen (Afrika Selatan).

Dalam sambutan acara penutupan tadi malam, Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar mengharapkan penyelenggaraan MTQ Internasional ini dapat menjadi jembatan ukhuwah Islamiyah. Wamenag melalui siaran persnya juga menegaskan bahwa MTQ Internasional ini memiliki peran strategis sebagai salah satu sarana menyatukan umat Islam yang di masa-masa mendatang perlu untuk terus ditingkatkan. Selain itu, MTQ dan pendidikan Alquran juga diharapkan oleh Wamenag memberi pengaruh dan sentuhan syiar dakwah yang bernilai positif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Ajang MTQ Internasional ke-2 Tahun 2013 ini juga dimeriahkan dengan Seminar Internasional yang bertajuk Peran strategis Al Qur’an dalam Era Global Menuju Peradaban Baru di Masjid Istiqlal Jakarta tanggal, 13 Sptember 2013 oleh Pimpinan Pusat Ikatan Persaudaraan Qari Qariah dan Hafidz Hafidzah (IPQAH). Hadir sebagai pembicara dalam seminar itu antara lain, Ketua Umum PP IPQAH Prof. Dr. Said Aqil Husein Al Munawwar (Indonesia), Dr Sami’ Al Samina (Yordania) dan Syekh Rasyid Hasan (Uni Emirat Arab).
Peserta  Tilawatil Qur'an
 MTQ Internasional yang dibuka oleh Wakil Presiden Boediono pada 11 September 2013, diikuti oleh 40 peserta dari 20 negara, yaitu: Maroko, Uni Emirat Arab, Brunei Darussalam, India, Pakistan, Malaysia, Thailand, Mesir, Yordania, Amerika Serikat, Afrika Selatan, Kuwait, Tunisia, Belanda, Aljazair, Timor Leste, Saudi Arabia, Singapura, Perancis, dan Indonesia 
MTQ Internasional ke-2 yang diselenggarakan di Masjid Istiqlal Jakarta ini melombakan 2 cabang, yaitu: seni baca (tilawah) Al-Qur'an dan hafalan Al-Qur'an. MTQ Internasional ini merupakan event kedua di mana Indonesia menjadi tuan rumah. Sebelumnya, Indonesia pernah menjadi tuan rumah pada 2003.

Sumber: okezone.com

Saturday, September 14, 2013

Tim ITS Raih 'Best Rookie' di Jepang

Mobil Widya Wahana Sapu Angin buatan mahasiswa ITS
Tim mobil Sapu Angin Speed (SAS) dari ITS meraih "best rookie award" atau pendatang baru terbaik dalam kompetisi Student Formula Japan (SFJ) 2013 di Shizuoka, Jepang, mulai Selasa (3/9) hingga Sabtu (7/9).
"Itu prestasi yang luar biasa karena tahun ini merupakan kali pertama tim ITS mengikuti kejuaraan tersebut meski sebelumnya sudah ada tim dari dua perguruan tinggi terkemuka di Indonesia yang ikut kompetisi itu," kata ketua Jurusan Teknik Mesin ITS Dr.Ir. Bambang Pramujati, M.Sc.Eng, Ph.D. di Surabaya, Ahad (8/9). Apalagi, kata dia, kontingen Indonesia sebelumnya dari dua perguruan tinggi terkemuka di Indonesia itu belum pernah memperoleh penghargaan sehingga ITS menjadi institusi pertama dari Indonesia yang sukses membawa pulang gelar dari Negeri Sakura tersebut.
Hal senada dikemukakan Ir Witantyo, M.Eng.Sc selaku dosen pembimbing tim Sapu Angin Speed. "Kompetisi ini mempunyai tantangan yang cukup berat. Banyak aturan yang diadopsi dari kompetisi balap dunia, seperti Formula 1, tetapi mahasiswa ITS mampu mengatasinya dengan baik dan berhasil meraih penghargaan best rookie award. Saya bangga dengan hasil ini," jelasnya.
Namun, dosen Jurusan Teknik Mesin ITS itu menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki dari tim Sapu Angin Speed ITS, di antaranya perhitungan cost report. "Pada saat uji cost report, kita memperoleh nilai minus 100," katanya. Ia pun berjanji akan memasukkan perhitungan "cost report" ke silabus salah satu mata kuliah. Perasaan bangga juga datang dari anggota tim Sapu Angin Speed, Hulfi Mirza Hulam Ahmad. "Kami tidak menyangka bisa memperoleh penghargaan itu karena saat ujian terakhir kami gagal di finis, bahkan tidak memperoleh poin sehingga penghargaan ini menjadi kejutan yang tidak disangka-sangka sama sekali. Awalnya, kami pesimistis mendapat Best Rookie," katanya.
Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin ITS itu menilai keberhasilan itu tidak lepas dari jerih payah selurus anggota tim dan dosen pembimbing selama dua bulan terakhir. "Lebih dari itu, dukungan dan doa dari seluruh sivitas akademika ITS juga menjadi faktor lain dari kesuksesan tim Sapu Angin Speed. Terima kasih, maju terus ITS, maju Indonesia," katanya. Lomba yang diadakan oleh SAE (Society of Automotive Engineers) ini diikuti 77 peserta dari lima negara, di antaranya Jepang, China, Thailand, Indonesia, dan India.

Thursday, September 5, 2013

Learn patriotism from Indonesians

A bearer carrying the national flag to be hoisted during the Independence Day celebration in Jakarta. Indonesians are bound by their respect for symbols of the nation.
THE late Pramoedya Ananta Toer was incarcerated for more than 12 years. When he was released on Dec 21, 1977, the label topol (tahanan politik or political prisoner) stigmatised him for life. He suffered and so, too, his family. The last time I met him 17 years ago, he was not in the best of health but he was cheerful and chatty. There was a small Sang Saka Merah Putih, the Indonesian flag on his table. I was tempted to ask what he felt about the symbol of the country that had done so much injustice to him. I expected him to say that he had nothing against his country. He accepted his fate, for he, too, had a checkered past. He was one of the ideologues of Lembaga Kebudayaan Rakyat, the eyes and ears of Partai Komunis Indonesia.
Yet, he was as Indonesian as anyone in the country can be, as loyal and as patriotic. He spoke at length about his beloved country, his belief in Bhinneka tunggal ika (unity in diversity) that is the motto of Indonesia. And, he wasn't that bitter to hate his country. Nor to ignore the significance of Hari Kemerdekaan (Independence Day). After all, he knew many of the founding fathers, including Sukarno, the first president. I am envious of the Indonesians as a whole. When it comes to manifestation of patriotism, they are in a league of their own.
There will be no debate, discourse or campaign to fly the Sang Saka Merah Putih. And, no necessity for any of its leaders to appear on television to encourage, plead or cajole the people to fly the dwiwarna (dual-colour) flag. Indonesia was painted red and white this month (Aug 17, 1945 was their Independence Day). Little wonder they called the flag "the sacred red and white". It is kudus (sacred) indeed. Not only the flags, they will also ensure the red and white motifs in different formations. Not that their society is not divided. Or the people are not at loggerheads politically. Religion, sects, even ethnicity, are dividing them. But, there is one thing that will bind them: the respect for symbols of Indonesia. Sang Saka Merah Putih, especially. The national anthem. And, their sense of pride, which can be intense, even feverish, at times. Patriotism comes in many forms, some would argue. Jingoism is archaic to some. Symbolism means little to a segment of our society.
The sense of loyalty does not mean submitting to certain acceptable norms about propriety and good conduct. The love for one's country can be manifested in other forms. And, the debate rages on.
Tell that to the Indonesians. Perhaps their priority is to ensure the creation of negara bangsa (nation state), the rest come later.
They believe in unity in diversity. They speak the same language. They salute the Pancasila, the official philosophical foundation of the state, not unlike our Rukun Negara. They may not be as successful economically compared with us (perhaps, not yet), but they built the foundation of nation-building first. They need that to unite 240 million people.
Even Pramoedya wrote great novels about the Indonesia that had not been kind and just to him. The world knew Indonesia through his books. He was candid in telling his stories. From Keluarga Gerilya (A guerilla family) to Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (Mute soliloquy), two of his best-known autobiographical novels, he taught us about humility, struggle and sacrifice. And, above all, love for one's country.
The National Day is not about parade, patriotic songs and flag-waving. And, it is not about mimicking the call for "Merdeka!" by Tunku Abdul Rahman, the first prime minister of the country. It matters little how we manifest patriotism, but perhaps by learning from the Indonesians, we could at least hoist the Jalur Gemilang at our offices, shops or homes. I wonder what the late Yasmin Ahmad would have thought about the debate on what constitutes patriotism. But I know one thing for sure. She would have continued showing us as Malaysians in her united colours of cinema. The Malaysia that she had envisioned.
A united Malaysia. Dirgahayu Malaysiaku!

source: nst.com