Showing posts with label Indonesian Natural. Show all posts
Showing posts with label Indonesian Natural. Show all posts

Monday, January 6, 2014

Ada Tempat Snorkeling Keren di Desa Angsana, Kalimantan Selatan

Ikan Nemo di antara Anemon
Beruntungnya tinggal di Indonesia yang memiliki keindahan bawah laut luar biasa. Di desa Angsana, Kalsel, terdapat taman bawah laut yang merupakan kerajaan dari ikan nemo. Ikan badut cantik itu banyak ditemui di tempat ini.
Kalimantan Selatan juga memiliki taman bawah laut yang indah, tepatnya terletak di desa Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu. Relatif mudah untuk mencapai lokasi ini, sekitar 4 jam perjalanan dengan menggunakan angkutan umum dari Kota Banjarmasin menuju desa Angsana.

Wednesday, December 18, 2013

Mendapatkan Award of Excellence UNESCO 2012 Melejitkan Wae Rebo ke Dunia.

Kampung adat Wae Rebo, Desa Satarlenda, Kecamatan Satarmese Barat, Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Kampung adat Wae Rebo di Gunung Pocoroko, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, adalah primadona baru. Setelah mendapat anugerah Award of Excellence dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB atau UNESCO kawasan Asia Pasifik, kampung ini tak pernah sepi. Para wisatawan berlomba membuktikan keagungan mahakarya budaya bangsa Indonesia dan menimba kearifan hidup masyarakat Wae Rebo.

Pusat Arkeologi Nasional Menemukan Fosil Kepala Gajah dan Kerbau Purba, serta Artefak Berburu Homo erectus.

Fosil yang memperlihatkan gigi-geligi rahang atas dari Stegodon yang ditemukan di Desa Grogolan Wetan, Kabupaten Sragen. Kawasan tersebut merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO,
“Kami menemukan Steggy,” kata Ruly Fauzi menyebut temuan fosil kepala gajah purba atau Stegodon trigonochepalus pada kedalaman hampir lima meter di Situs Warisan Dunia, Sangiran, Jawa Tengah. Steggy diduga pernah hidup di kawasan ini sekitar 700 ribu hingga 800 ribu tahun silam. Pada akhir Agustus hingga awal September 2013, Pusat Arkeologi Nasional menyelisik singkapan tebing di Desa Grogolan Wetan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Mereka umumnya para arkeolog muda yang bergelora menyingkap teka-teki kehidupan prasejarah di kawasan yang dikenal sebagai “pusat evolusi manusia dunia”.
Tahun ini mereka berhasil menemukan fosil kepala Steggy si gajah purba, beberapa artefak berburu tinggalan Homo erectus. Di bagian lain, mereka menemukan fosil kerbau purba atau Bubalus palaeokerabau dengan rentang ujung-ujung tanduknya sekitar satu meter lebih.

Tuesday, December 17, 2013

Ditemukan, Gua Baru di Gunung Kidul

Salah seorang pemandu wisata sedang memeriksa kondisi dalam gua yang baru saja ditemukan oleh warga.
Warga yang tinggal di sekitar kompleks wisata Gua Pindul, Kamis (5/12), digegerkan dengan penemuan gua baru di lokasi pembuatan lahan parkir milik Paijan (54), warga Dusun Gelaran 1, Bejiharjo. Gua yang belum diberi nama ini ditemukan saat operator backhoe, Murdiyono sedang bekerja di bukit kapur yang berada di samping sekretariat Pokdarwis Dewa Bejo. Saat alat berat itu diarahkan ke tebing di sisi barat, tiba-tiba terdengar suara bergema dari dalam bukit. Setelah bongkahan batu besar di sisi barat dihancurkan, tiba-tiba terlihat sebuah lorong yang dipenuhi dengan tumpukan tanah. Murdiyono yang kaget melihat adanya lorong kemudian langsung memberi tahu pemilik lahan dan warga sekitar.
"Saya mendengar suara berbeda saat batu di bagian barat saya kepras pakai breaker. Saya matikan mesin backhoe, dan turun untuk melihatnya. Ternyata ada gua yang lorongnya tertutup tanah," katanya saat ditemui di lokasi penemuan. Kabar penemuan gua ini dengan cepat menyebar ke warga sekitar. Ratusan warga langsung berdatangan ke lokasi untuk melihat gua yang baru saja ditemukan. Beberapa pemandu Gua Pindul yang ikut penasaran akhirnya masuk ke dalam gua.

Monday, December 16, 2013

Indonesia Kini Punya Lima Taman Bumi

Danau Segara Anak dilhat dari puncak Gunung Rinjani di ketinggian 3.726 m.
Geopark (taman bumi) adalah konsep manajemen pengembangan kawasan wisata secara berkelanjutan yang memadukan tiga keragaman alam, yaitu geologi dan geomorfologi (Geodiversity), keragaman geologi nilai ilmiah (Geoheritage), serta konservasi Geodiversity (Geoconservation).
Indonesia saat ini memiliki lima kawasan yang telah dinyatakan sebagai taman bumi nasional oleh Badan Geologi Kementerian Enegeri Sumber Daya Mineral dan Kementerian Ekonomi Kreatif. Kelima kawasan tersebut adalah Gunung Sewu (meliputi tiga provinsi, yaitu Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur); Merangin (Jambi); Gunung Rinjani (Nusa Tenggara Barat); Danau Toba (Sumatera Utara); dan Gunung Batur (Bali).  Khusus untuk Gunung Batur telah dinyatakan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuna, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO)  pada tahun 2012 sebagai salah satu Geopark Dunia berlevel internasional.

Sunday, December 8, 2013

Sanur Masuk Daftar 'Destinations on the Rise' Teratas di Asia

Pantai Sanur
TripAdvisor mengumumkan pemenang Travellers’ Choice Awards for Destinations on the Rise 2013. Penghargaan ini menyoroti 54 tempat di dunia yang terus mendapatkan umpan balik positif dan minat yang semakin besar dari wisatawan dari tahun ke tahun.
Havana, Kuba berada di posisi teratas untuk 10 tempat paling top di dunia. Daftar ini juga berisi tujuan wisata di wilayah Pasifik Selatan, Asia, Eropa, Amerika Selatan dan Amerika. Sanur di Bali yang menduduki posisi ketujuh di Asia, adalah satu-satunya destinasi di Indonesia yang tercantum dalam daftar di Asia.
“Untuk wisatawan yang mencari inspirasi untuk merencanakan perjalanan mereka di tahun 2014, wisatawan TripAdvisor membantu kami menemukan beberapa tujuan wisata yang mengesankan yang telah menarik perhatian wisatawan dalam tahun terakhir,” kata Barbara Messing, chief marketing officer TripAdvisor.
“Dari kota-kota besar yang semakin populer dan tempat-tempat tersembunyi yang ditunjukkan oleh komunitas kami, wisatawan bisa mendapatkan akomodasi yang baik, objek wisata dan restoran di semua tujuan wisata yang mendapatkan penghargaan ini.”
“Kami gembira Sapporo menduduki posisi kedua di Asia dan ketujuh dunia dalam Travellers’ Choice Destinations on the Rise 2013 karena hal ini menunjukkan kualitas tujuan wisata kami sebagai spot wisata yang sedang popular di kalangan wisatawan,” kata Pemerintahan Kota Sapporo.

10 Destinations on the Rise teratas di Asia:
1. Kathmandu, Nepal
2. Sapporo, Jepang
3. Hanoi, Vietnam
4. SiemReap, Kamboja
5. Hua Hin, Thailand
6. Kota Kinabalu, Malaysia
7. Sanur, Indonesia
8. Macau, China
9. Jaipur, India
10. Busan, Korea Selatan

10 Destinations on the Rise teratas di dunia:
1. Havana, Kuba
2. La Fortuna de San Carlos, Kosta Rika
3. Kathmandu, Nepal
4. Jerusalem, Israel
5. Cusco, Peru
6. AmbergrisCaye, Belize
7. Sapporo, Jepang
8. Hanoi, Vietnam
9. Corralejo, Spanyol
10. Fortaleza, Brasil
 
Sumber: merdeka.com

Monday, December 2, 2013

Paul Walker Punya Rumah Peristirahatan di Indonesia

Paul Walker
Paul Walker ternyata memiliki rumah peristirahatan di Indonesia. Dalam wawancara dengan majalah Men's Health pada Maret 2010, Walker mengungkapkan dia tengah membangun rumah di daerah yang masih dikepung hutan di Indonesia. Tanpa menyebut secara spesifik lokasi rumahnya di Indonesia, Walker menggambarkan rumahnya berdiri di daerah yang cukup terpencil sehingga dibutuhkan kerja keras untuk membangunnya.
"Waktu datang ke sini saya pikir daerah ini akan menjadi pulau rahasia, surga di dunia. Tapi tidak ada jalan masuk ke sana. Jadi saya benar-benar harus membuka jalan," tutur Walker kepada Men's Healh.
"Ini salah satu tempat yang paling indah di dunia, kalau bukan yang paling indah - apalagi karena harganya," kata dia.
Walker benar-benar jatuh cinta pada tempat itu dan memujinya setinggi langit. Di rumah tetirahnya di Indonesia itu, Walker bisa melakukan aktivitas favoritnya, surfing dan diving. Di situ dia juga memetik berbagai jenis buah yang tumbuh di sekitar dan menikmati air segar dari mata air di belakang rumahnya.
Salah satu kendala yang dihadapinya saat membangun rumah itu adalah hujan. "Di sini udaranya hangat, tapi hujan terus, belum lagi petirnya. Dan, bekerja di tengah hujan itu, tidak mudah," ujarnya.
"Di sini tidak ada listrik. Saya pakai lilin. Memasak di api unggun, secara tradisional. Saya memanen padi sendiri, mengeringkannya, menumbuk dan memasaknya sendiri. Saya juga menyelam untuk mengambil lobster dan gurita," tutur Walker tentang kegiatannya di rumah itu.
Namun, Walker mengaku dia tidak pernah tinggal lama di tempat itu. "Kalau saya melakukanya sepanjang tahun, kenikmatan itu akan jadi membosankan. Jadi saya tinggal di sini paling dua minggu, tiga minggu," katanya.
Seperti diberitakan, aktor pemeran Brian O'Connor dalam Fast and Furious itu tewas dalam kecelakaan di Los Angeles, California, Amerika Serikat, Sabtu (30/11/2013) sore. Mobil yang ditumpanginya menabrak tiang dan terbakar. Kepolisian setempat menyatakan dua orang di dalam mobil tewas seketika. Dalam keterangan persnya, juru bicara Paul Walker mengatakan, mobil itu milik teman Walker dan aktor itu duduk di kursi penumpang.

Sumber:  tribunnews.com

Wednesday, November 20, 2013

Tahun ini Indonesia Memperbarui Rencana Aksi dan Strategi Keanekaragaman Hayati (IBSAP-Indonesia’s Biodiversity Strategy and Action Plan).

Cagar Alam Tangkoko menjadi kawasan konservasi terakhir dan terluas bagi yaki.
Tahun ini Indonesia sedang memperbarui Rencana Aksi dan Strategi Keanekaragaman Hayati (IBSAP-Indonesia’s Biodiversity Strategy and Action Plan). Upaya update rencana aksi itu untuk menentukan prioritas pengelolaan keragaman hayati yang dimiliki Indonesia.“Berbagai keunikan organisme, ekosistem, habitat dan flora-fauna endemik membuat Indonesia sebagai salah satu dari 12 pusat keragaman hayati dunia,” papar Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida S. Alisjahbana.
Dalam Konferensi Internasional Kedua Alfred Russel Wallace dan Wallacea di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 10 – 13 November, dia menuturkan, sejak 1993, Bappenas telah merilis Rencana Aksi bagi Keanekaragaman Hayati Indonesia (BAPI-Biodiversity Action Plan for Indonesia). “Pada 2003, BAPI diperbarui dengan Rencana Aksi dan Strategi Keanekaragaman Hayati 2003 – 2020,” lanjutnya. Dia menjelaskan, selain sebagai jembatan antara komitmen nasional dengan global, Rencana Aksi itu juga sebagai patokan dalam menentukan prioritas dan investasi dalam konservasi keragaman hayati. “Tahun ini, kita akan memperbarui IBSAP berdasarkan Konferensi Parapihak ke-10 Konvensi Keragaman Hayati Nagoya,” lanjutnya.
Bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Kementerian yang dipimpinnya akan mengawal proses pembaruan IBSAP tersebut. Armida menjelaskan, tujuan pembaruan itu untuk menampung sejumlah dinamika baru, termasuk memadukan faktor perubahan iklim, kemiskinan, nilai ekonomi dan finansial keragaman hayati dan peluang ekonomi hijau. Pembaruan juga untuk mendukung implementasi target keragaman hayati globaldalam Protokol Cartagena dan Protokol Nagoya. Selain itu, “Untuk menampung isu-isu keanekaragaman hayati di tingkat nasional dan subnasional serta membuat panduan bagi pengelolaannya.”
Kawasan konservasi mangrove yang berada di wilayah Kota Tarakan, Kalimantan Utara.
Dalam paparan di sela santap malam Konferensi itu, Armida menegaskan ada tiga komponen dalam upaya memperbarui Rencana Aksi dan Strategi Keanekaragaman Hayati. Pertama, jelas Armida, di bawah koordinasi LIPI, dilakukan pengumpulan data dan pengembangan target dan indikator nasional. Sementara itu, Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenasmelakukan penilaian ekonomi dan finansial keragaman hayati.
“Juga membuat kerangka kerja bagi prioritas keragaman hayati dalam Rencana Pembangunan Jangka Menangah 2015 – 2019.”Komponen lain yang tak kalah penting, kerangka kerja kelembagaan, strategi komunikasi dan pengembangan mekanisme evaluasi dan monitoring. “Komponen ini di bawah koordinasi KLH sebagai focal point Konvensi Keragaman Hayati,” imbuh Armida.
Selama 2011 – 2013, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional telah berinisiatif mereview penerapan IBSAP di tingkat nasional dan subnasional. “Inisiatif lainnya, mereview keterpaduan IBSAP dengan Rencana Pembanguan Jangka Menengah 2010 – 2104.”

Indonesia Negara Pertama di Dunia yang Menghasilkan Tebu Transgenik

Tebu Transgenik.
Varietas tebu transgenik telah dihasilkan Indonesia. Untuk introduksi tebu hasil rekayasa genetika pada petani dikeluarkan sertifikat keamanan terhadap lingkungan dan pangan. Ada pun sertifikat untuk keamanan pakan masih dalam proses pengkajian di Kementerian Pertanian. Hal itu disampaikan Dewi Suryani Oktavia, Program Manager Indonesian Biotechnology Information Center, dalam lokakarya regional untuk praktisi media bertajuk "Biosafety and Biotechnology for Food Security and Sustainable Agriculture" pada Selasa (12/11) di Bogor.
Titi Rahayu, Asisten Advokasi Biotechnology Outreach-Departemena Pertanian Amerika Serikat (USDA) menyatakan, saat ini ada 12 produk transgenik yang telah mendapat sertifikat keamanan pangan di Indonesia. Antara lain jagung, kedelai, dan tebu. Dalam pengembangan teknologi transgenik, pihaknya mempromosikan teknologi yang aman dan berdaya saing tinggi, hasil pengembangan di AS. Di negara itu, teknologi transgenik mulai dikembangkan tahun 1996 untuk mendapatkan varietas tahan kekeringan.
Tebu transgenik dihasilkan oleh tim peneliti Universitas Jember, yang dipimpin Prof Bambang Sugiharto. Penelitian yang bekerja sama dengan dengan PTPN XI di Jawa Timur itu menghasilkan tebu yang tahan kekeringan. Selain tebu, riset transgenik pun dilakukan pada padi. Produk hasil rekayasa dihasilkan oleh peneliti pada Puslit Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Sementara itu, ada padi emas, yaitu padi transgenik yang disisipi vitamin A, hasil penelitian dari IRRI Filipina. Padi tersebut disilangkan dengan padi lokal oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, dan penanaman padi hasil persilangan kini diujicobakan di Desa Muara, Kabupaten Bogor.

Tuesday, September 17, 2013

Taman Nasional Lorentz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik.

Taman Nasional Lorentz ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO dan Warisan Alam ASEAN oleh negara-negara ASEAN.
Taman Nasional Lorentz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Kawasan ini juga merupakan salah satu diantara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis. Membentang dari puncak gunung yang diselimuti salju (5.030 meter dpl), hingga membujur ke perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura. Dalam bentangan ini, terdapat spektrum ekologis menakjubkan dari kawasan vegetasi alpin, sub-alpin, montana, sub-montana, dataran rendah, dan lahan basah. Selain memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, terdapat pula beberapa kekhasan dan keunikan adanya gletser di Puncak Jaya dan sungai yang menghilang beberapa kilometer ke dalam tanah di Lembah Balliem.
Sebanyak 34 tipe vegetasi diantaranya hutan rawa, hutan tepi sungai, hutan sagu, hutan gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar/lereng, hutan hujan pada bukit, hutan kerangas, hutan pegunungan, padang rumput, dan lumut kerak. Jenis-jenis tumbuhan di taman nasional ini antara lain nipah (Nypa fruticans), bakau (Rhizophora apiculata), Pandanus julianettii, Colocasia esculenta, Avicennia marina, Podocarpus pilgeri, dan Nauclea coadunata.
Puncak jaya di Taman Nasinal Lorentz
Jenis-jenis satwa yang sudah diidentifikasi di Taman Nasional Lorentz sebanyak 630 jenis burung (± 70 % dari burung yang ada di Papua) dan 123 jenis mamalia. Jenis burung yang menjadi ciri khas taman nasional ini ada dua jenis kasuari, empat megapoda, 31 jenis dara/merpati, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29 jenis burung madu, dan 20 jenis endemik diantaranya cendrawasih ekor panjang (Paradigalla caruneulata) dan puyuh salju (Anurophasis monorthonyx). Satwa mamalia tercatat antara lain babi duri moncong panjang (Zaglossus bruijnii), babi duri moncong pendek (Tachyglossus aculeatus), 4 jenis kuskus, walabi, kucing hutan, dan kanguru pohon.
Taman nasional ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan ditunjang keanekaragaman budaya yang mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan tersebut berumur 30.000 tahun dan merupakan tempat kediaman suku Nduga, Dani Barat, Amungme, Sempan dan Asmat. Kemungkinan masih ada lagi masyarakat yang hidup terpencil di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan manusia modern.
Suku Asmat terkenal dengan keterampilan pahatan patungnya. Menurut kepercayaannya, suku tersebut identik dengan hutan atau pohon. Batang pohon dilambangkan sebagai tubuh manusia, dahan-dahannya sebagai lengan, dan buahnya sebagai kepala manusia. Pohon dianggap sebagai tempat hidup para arwah nenek moyang mereka. Sistem masyarakat Asmat yang menghormati pohon, ternyata berlaku juga untuk sungai, gunung dan lain-lain.
Lorentz ditunjuk sebagai taman nasional pada tahun 1997, sehingga fasilitas/sarana untuk kemudahan pengunjung masih sangat terbatas, dan belum semua obyek dan daya tarik wisata alam di taman nasional ini telah diidentifikasi dan dikembangkan.
Lembah di Taman Nasional Lorentz
 
Sumber: dephut.go.id

Saturday, September 14, 2013

Swiming with the shark at bay of Cendrawasih, Papua, Indonesia

The sun was still high in the sky as we made our way to the first lift net boat. The fishers, who had been resting after nights of fishing, indicated that there was indeed a whale shark swimming under their platform and got a few bags of small anchovies to feed the whale shark as we plunged into the water.
Lida swimming with Whale Shark in Papua
 The whale shark was not bothered at all while we took many pictures and swam slowly with it. Our local WWF team, led by Benny Noor, related how the presence of whale sharks in the Cendrawasih National Park had generated a lot of international attention recently. Cassandra Tania – WWF monitoring officer – explained how the collaboration with renowned whale shark scientist Brent Steward of Hubbs-SeaWorld Research Institute, San Diego, is helping the national park authorities determine how best to protect the whale sharks and manage tourism activities that have sprung up in the past year.
The hype around the possibility of swimming or diving with whale sharks affected me a year ago, when I received a very angry email from a concerned foreign tourist, demanding that WWF immediately step in to protect whale sharks and ensure that whale sharks would not be hurt by the locals and that guests traveling to the area via “live aboard” boats could enjoy encounters with these gentle giants in a well-organized manner.
My local WWF colleagues had been facilitating the resolution of a conflict between the lift net fishers, the communities living in the area, and the live aboard dive operators who had started to give the lift net fishers money in order for tourists to swim around their platforms.
One community member had threatened to kill the whale sharks because the economic benefits of the tourism activities were not being shared with his community—the rightful “owners” of the area where the lift net fishers (mostly temporary fishers from Sulawesi several miles away) operated. The angry community member felt that if his community would not benefit from the whale sharks, then no one else should.
Now that the conflict has been resolved, it continues to be the park authority’s responsibility to make sure that the whale sharks are treated well and protected. The research that was initiated to understand the migration patterns of whale sharks and our observer program, which will generate information on the impact of the lift net fishery on the abundance of whale shark food (anchovies), will be key to the effective protection of these gentle giants of the ocean. Nonetheless, the lift net fishers and community members have an important role to play too.
Local community conservation group in Cendrawasih National Park
The fact that Papuan communities abide by strong traditional tenure regulations known as hak ulayat is both a promise and a challenge for effective management of fishing and conservation activities in the national park. This was illustrated rather directly, as we got stuck on the way to the whale sharks earlier in the week. The airport of Manokwari was closed over a community conflict related to the new expansion of the airport building and its facilities. With a three-hour delay, we eventually arrived at our destination, but only because the local government had to agree to pay the local community that owns the land around the airport the requested amount of approximately half a million US dollars. Having paid 20% of it to open up the airport again, the government now faces tough negotiations for the remaining request. The amount does not seem commensurate to the small size of the land needed.
This example illustrates to me how important it is to invest in outreach and education especially among the young Papuan generation. If we start putting a cash value on everything that falls under the hak ulayat tenure scheme, there may be no end to the payments. A developing understanding of the importance of sustainable fishing and a resulting local stewardship that incorporates right-based management with full protection of areas for endangered wild life and fisheries replenishment will be the hope for a future where people in Papua will continue to benefit from the riches that their fascinating land and waters encompass.
Two whale sharks looking for an easy meal under a fish liftnet platform in Papua, Indonesia 
 As my camera runs out of battery after shooting so many photos of the beautiful whale sharks, I reflect that these whale sharks are here only because they get an easy fill of small fish. For the long term, however, as for the coastal communities throughout the Coral Triangle, we must get better now at collaborative management for the sustainability of fish populations. With a growing need for seafood, unfortunately, there are no quick fixes.

Friday, September 6, 2013

Taka Bonerate, Gugusan Pulau dengan Karang Atol Ketiga Terbesar di Dunia

Pulau Taka Bonerate
Menelusuri gugusan pantai di Sulawesi, kita akan diperkenalkan dengan sebuah taman laut yang menyimpan kerumunan Atol nomor tiga terbesar di dunia, setelah Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa. Hebatnya lagi, Atol hanya akan ditemukan di ketiga tempat ini. Surga itu ada di Taman Nasional Taka Bonerate, yang terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Terdapat 15 pulau yang cocok dijadikan wahana menyelam, snorkeling, dan wisata bahari lainnya.
Atol adalah terumbu karang yang berada di laut berbentuk seperti cincin melingkar dan ditengahnya terdapat danau yang disebut dengan ‘laguna’. Atol seperti pulau rendah, banyak ditemukan disekitar laut tropis dan subtropis, terutama di kawasan Samudera Pasifik dan Samudra Hindia. Inilah yang membuat Taman Nasional Taka Bonerate sangat istimewa, karena Atol tidak dapat ditemukan di Bunaken, Raja Ampat, Wakatobi, maupun tempat lainnya di Indonesia.
Kawasan ini didekorasi dengan topografi yang unik dan menarik, dimana Atol yang terdiri dari gugusan pulau-pulau gosong karang dan rataan terumbu yang luas serta tenggelam membentuk pulau-pulau dengan jumlah yang cukup banyak. Di antara pulau-pulau dan gosong karang terdapat selat-selat sempit yang dalam dan terjal, sedangkan pada bagian permukaan rataan terumbu banyak terdapat kolam-kolam kecil yang dalam dikelilingi oleh terumbu karang, pada saat air surut terendah, akan tampak seperti daratan kering yang diselingi oleh genangan air yang membentuk kolam-kolam kecil. Pada bagian luar daerah atol, dikelilingi oleh massa air yang berwarna biru pekat yang merupakan perairan yang cukup dalam (lebih dari 1.500 meter) dan terjal.
Pemandangan bawah laut di Atol Kaledupa
Kekayaan Taman Nasional Taka Bonerate meliputi, terumbu karang yang sudah teridentifikasi sebanyak 261 jenis dari 17 famili diantaranya Pocillopora eydouxi, Montipora danae, Acropora palifera, Porites cylindrica, Pavona clavus, Fungia concinna, dan lain-lain. Terdapat  juga sekitar 295 jenis ikan karang dan berbagai jenis ikan konsumsi yang bernilai ekonomis tinggi seperti kerapu (Epinephelus spp.), cakalang (Katsuwonus spp.), napoleon wrasse (Cheilinus undulatus), dan baronang (Siganus sp.). Sebanyak 244 jenis moluska juga hidup disini, diantaranya lola (Trochus niloticus), kerang kepala kambing (Cassis cornuta), triton (Charonia tritonis), batulaga (Turbo spp.), kima sisik (Tridacna squamosa), kerang mutiara (Pinctada spp.), dan nautilus berongga (Nautilus pompillius). Ada juga jenis-jenis penyu yang tercatat, termasuk penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu lekang (Dermochelys coriacea).
Pulau Taka Bonerate
Untuk menuju ke Taman Nasional Taka Bonerate, dapat ditempuh melalui jalur darat. Dari di Terminal Malengkeri, dapat menaiki Bus Aneka yang melayani angkutan penumpang Makassar – Selayar. Setibanya di Kabupaten Selayar, kita harus menyeberang pulau dengan menggunakan Kapal Ferry. Pulau Selayar adalah satu-satunya Kabupaten di Sulawesi Selatan yang berupa pulau dan terpisah dari daratan pulau Sulawesi Selatan. Untuk mencapai Kepulauan Taka Bonerate kami harus melewati Pulau Selayar. (Laras)


Goa Grubug, Gunungkidul, Jogja

Caver beristirahat setelah turut dari mulut Goa Jomblang di Gunung Kidul, Yogyakarta. Gua Jomblang merupakan salah satu gua dari ratusan kompleks gua Gunungkidul yang terkenal karena keunikan dan keindahannya yang tidak terbantahkan.
Gunung Kidul bagian selatan menyajikan petualangan mendebarkan melalui kawasan Perbukitan Karst, bagian dari Pegunungan Karst Gunung Sewu yang membujur di Selatan Jawa. Pepohonan yang rimbun di Luweng Jomblang, pintu awal perjalanan Blacktrailers menuju dunia bawah tanah ini, menyambut kembali dengan udara yang menyegarkan. Luweng Jomblang-yang terhubung dengan Luweng Grubug-adalah sebuah area berdiameter 40 meter yang jutaan tahun lalu ada di permukaan tanah lalu amblas sekitar 60 meter ke bawah, membawa serta semua biota yang ada didalamnya. Di hutan ini waktu bagai terhenti. Ekosistem dasar Luweng mirip jutaan tahun yang lalu menyisakan tanaman yang menurut peneliti masih dalam proses identifikasi, karena tak lagi ditemukan di seluruh kawasan Karst Gunung Sewu.
Caver bersiap menuruni Goa Jomblang di Gunung Kidul. Gua dengan luas mulut lebih kurang 50 meter ini menjadi Goa yang sangat menarik untuk melakukan kegiatan Caving.
 Di awal penelusuran, menuruni lubang raksasa ini memang butuh kewaspadaan dan teknik tersendiri. Untuk kembali ke atas lalgi-lalgi kita wajib menggunakan bantuan tali untuk naik sekitar 25 meter atau sekitar 6 lantai gedung bertingkat. Selain menggunakan teknik SRT atau Single Rope Technique-naik menggunakan alat bantu namun tenaga sendiri-teknik lain yang bisa dilakukan adalah teknik hauling dan lowering. Dalam teknik ini, pengunjung gua menggunakan peralatan pengaman, kemudian duduk manis saat diturunkan atau dinaikkan dengan bantuan tenaga orang lain. Ibarat mengerek ember dari dasar sumur dengan mekanisme khusus.
Seorang caver mengamati stalakmit di Goa Jomblang.


Tuesday, September 3, 2013

Danau Sentani adalah Wajah Spektakuler Papua

Danau Sentani
Perjalanan ke Papua bisa sangat menyenangkan dengan berkunjung ke Danau Sentani, danau ini memiliki pemandangan yang indah di atas kilauan air, terletak di dekat Jayapura, ibu kota Papua. Keheningan air akan membuat Anda merasa damai seperti berada di surga. Dengan merangkul Pegunungan Cyclops di sebelah utara dan tumbuhan subur sebagai latar belakang yang indah dan melindungi 24 desa yang betengger sekitar danau menjadikan danau ini sangat indah dan unik. Orang-orang di sini ramah dan kreatif, hasil kerajinan tangan mereka merupakan yang terbaik di tanah Papua.
Menaiki perahu di danau merupakan pengalaman yang indah, Anda bisa menyewa perahu bermotor di salah satu desa. Merasakan hembusan angin membelai kulit dan rambut Anda ketika melaju di danau, mengabadikan rumah-rumah panggung dan berkenalan dengan penduduk setempat hanya bisa Anda dapatkan dan rasakan di danau ini.

Pulau Terkecil di Dunia adalah Pulau Simping, Singkawang, Kalimanatan Barat


Simping Island
Pulau Simping terdiri dari pasir dan batu, dan beberapa pohon diatasnya. Di dalam pulau ini terdapat kelenteng disinilah para penghuni yang keturunan Cina memanjatkan doa. Jarak dari kota Pontianak ke Pulau Simping kira-kira 2-3 Jam. Wisatawan yang berkunjung ke Singkawang, Kalimantan Barat, bisa melihat dari dekat Pulau Simping, pulau yang diklaim sebagai pulau terkecil, tak hanya di Indonesia, tetapi di dunia. Pulau ini berada di kawasan Sinka Island Park. Papan petunjuk yang menerangkan mengenai Pulau Simping sebagai pulau terkecil itu ada di gerbang masuk Pulau Simping. Di papan itu tertulis bahawa Pulau Simping adalah pulau terkecil di dunia yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Monday, August 26, 2013

Pulau Misool Salah Satu Keindahan di Raja Ampat

Pulau Misool
Misool ibarat kapling surga kecil dengan keindahan pantai dan taman laut yang menakjubkan. Membentang sederetan pulau batu karang di bagian barat dan timurnya, Misool merupakan satu dari empat pulau terbesar di Kepulauan Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Misool berbatasan langsung dengan Laut Seram dan  perairan laut lepas yang menjadi jalur lintas hewan besar termasuk paus. Anda dapat menikmati segala keindahan di Pulau Misool tanpa harus membaginya dengan banyak orang. Nyatanya memang pulau-pulau yang tersebar itu sebagian besar tak berpenghuni.
Keberadaan surga bawah laut di Misool sudah dapat diidentifikasi bahkan sebelum Anda mencebur ke beningnya air laut yang berwarna turquoise amat menyejukkan mata. Panorama menawan pulau terpencil yang nyaris tak terjamah ini meliputi hamparan laut lepas yang luas dan amat bening, pasir putihnya terhampar sepanjang pesisir pantai dan dikelilingi pepohonan hutan tropis dan mangrove yang hijau permai. Pemandangan menyegarkan ini jelas akan menawan hati siapa pun yang melihatnya apalagi dengan apa yang disembunyikan di bawah perairan lautnya.

Keindahan Bawah Laut Pulau Derawan, Kalimantan Timur, Indonesia.

Bawah laut Pulau Derawan
Derawan adalah surga tropis yang sempurna. Sinar Matahari yang hangat berpadu dengan pemandangan pantai pasir putih nan halus, pohon kelapa yang melambai, serta laut jernih yang berubah warna dari hijau ke biru kobal. Kehidupan bawah laut di sini luar biasa, Anda akan temukan kura-kura raksasa, lumba-lumba, ikan pari, duyung, barakuda, serta ubur-ubur stingless. Ikan Hiu Derawan di sini merupakan salah satu keragaman hayati yang berharga. Dengan kekayaan bawah lautnya maka tidak mengherankan apabila kemudian Derawan dikenal sebagai salah satu tujuan wisata menyelam terbaik di dunia.